twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Selasa, 17 Mei 2011

Pendidikan Aceh Saat Ini




Murid Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Fajar Harapan mengikuti pelajaran di gudang padi karena tidak memiliki bangunan sekolah di desa Fajar Harapan Kecamatan Kluet Utara, Aceh Selatan, Sabtu (13/3). Masih banyak sarana dan prasarana pendidikan di provinsi Aceh belum layak.  



Pernak-pernik pendidikan Aceh hingga kini masih belum membanggakan. Merombak paradigma untuk mengusung tekad pendidikan Aceh bermutu, masih sebatas tataran wacana. Komitmen mencetak output yang life skill dan “siap saing” belum berkorelasi di tataran aksi. Banyak hal telah membuat realitas pendidikan di Aceh berada pada rating terendah secara nasional. Mulai mutu belajar dan mutu guru, minimnya sarana, dana pendidikan yang diselewengkan, manajemen tanpa visi, hingga political will pemerintah yang belum memihak. Bahkan orientasi sektor pendidikan masih berkisar pada proyek bukan profit.

Dunia pendidikan merupakan sektor terpenting dalam pembangunan suatu daerah, karena kunci kemajuan tersebut sangat tergantung dari sejauh mana pendidikan itu diperhatikan. Demikian pula halnya dengan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang kini mendapatkan perhatian yang cukup banyak dari berbagai pihak pasca musibah tsunami 26 Desember 2004 dan perjanjian damai Helsingki 15 Agustus 2005.
Sekarang ini pendidikan Aceh sedang memasuki titik transitional, dalam pengertian sedang mengalami masa perubahan, namun kalau semua ini bisa di kelola dan diatur dengan benar maka akan menjadi lebih baik di masa mendatang. Tapi, manakala ini tidak jelas arahnya, maka akan terjadi perbenturan antara satu komponen dengan komponen lain yang akhirnya menjadikan dunia pendidikan kita semakin membingungkan dan tiada arah.


langkah apa yang harus dilakukan untuk memajukan dunia pendidikan kita?


Kitalah yang sangat menentukan praktisi dunia pendidikan ke depan. Karena seperti diketahui sekarang, banyak pihak yang memberikan perhatiannya dan bantuan sebagai upaya peningkatan sumber daya manusia dan sebagainya. itu semua bermuara pada kita untuk meningkatkan mutu pendidikan. Jadi kalau tingkat pendidikan dasar, menengah sampai tingkat pendidikan tinggi jangan hanya tergantung pada potensi dan harapan mereka . Tapi juga sangat tergantung bagaimana kita memberikan perhatian dan di atas semua itu yang paling penting jangan mempolitisir dunia pendidikan.


Kita sekarang ini terkadang salah kaprah. Semua mau bebas, anak orang kaya yang memiliki mobil lima dirumahnya atau perusahaan pun mau melakukan demo minta SPP gratis. Kalau maunya free bagaimana kita bisa meningkatkan mutu pendidikan Aceh. Dalam kontek global, masyarakat menginginkan mutu lebih baik, tapi di sisi lain mereka tidak mau mengeluarkan biaya. Padahal dimanapun yang namanya pendidikan itu tidak terlepas dari modal dan butuh dana. Inilah yang saya kira perlu dijadikan pemahaman. Dan pemahaman ini hendaknya harus dilakukan segera, jangan ditunggu, karena kalau sudah terlambat nantinya baru sadar jika kita sudah tertinggal.

Jadi, gartis bagaimana yang sebenarnya dimaksudkan?


Pendidikan gratis yang di gembar-gemborkan itu saya kira bukan gratis dalam artinya keseluruhan, tetapi juga membutuhkan beli buku atau perlengkapan praktikum yang lebih baik. Nah, coba kita lihat perguruan tinggi misalnya. Mahasiswa inginnya membayar uang kuliahnya itu paling rendah di dunia. Tapi di sisi lain kan kita ini juga butuh berbagai tambahan fasilitas. Karena bagaimanapun dunia pendidikan itu butuh dana, dan anak-anak sendiri itu butuh buku, butuh fasilitas dan sarana pendukung lainnya untuk memperluas cakrawala.






Harapan untuk dunia pendidikan di Aceh di masa mendatang?

Yang kita harapkan mutu pendidikan di Aceh di masa mendatang akan lebih baik, dan untuk mewujudkan hal itu tentunya sangat dibutuhkan dukungan dari semua pihak, terutama dari pemerintah Aceh sendiri. Bukanlah saat ini kita telah mendapatkan alokasi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) yang lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya. Nah, ini kita harapkan dapat dimanfaat oleh pemerintah untuk mengalokasikan lebih banyak pada sektor dunia pendidikan, sehingga tidak ada lagi anak-anak Aceh yang tidak bisa menempuh pendidikan atau putus sekolah hanya dikarenakan masalah biaya.
Dunia pendidikan merupakan faktor terpenting dalam membangun suatu daerah, jika suatu daerah pendidikan rendah, maka akan rendah pula pembangunannya, demikian pula sebaliknya. Selain itu kita juga mengharapkan mutu pendidikan di Aceh akan semakin meningkat, jika sebelumnya mutu pendidikan kita termasuk ke dalam kategori wilayah yang pendidikannya masih rendah, mudah-mudahan hal ini tidak lagi di alami dunia pendidikan Aceh di masa mendatang



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar